baju lebaran gratis untuk anda

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat. (al-a’rof 26)

makna barokah

oleh: Rafiq Jauhary

 

Barokah, (atau dalam istilah jawa sering disebut dengan berkat) adalah sebuah istilah yang bersumber dari ajaran Islam. Istilah barokah dalam nash Al-Qur’an dan Al-Hadits kerap dimasukkan pada beberapa permasalahan yang menyangkut pada kenikmatan; baik berupa makanan, harta benda maupun sebuah perbuatan meliputi pernikahan, belajar-mengajar mengajar, pekerjaan dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, dan keilmuan Islam semakin enggan untuk dipelajari maka pemaknaan beberapa istilah dalam Islam semakin membias dan seolah sulit untuk didefinisikan. Sebagian orang yang tak mau berpikir panjang akan mengartikan beberapa istilah dalam Islam dengan apa yang didapatinya dalam keseharian, sementara yang ingin disebut dengan muslim yang intelek (berwawasan luas) beranjak menghimpun data dari literatur zaman dahulu dan digabungkannya lah beserta praktek di masyarakat, namun tetap mengabaikan rambu-rambu syariat. Kemudian dari keduanya apa yang akan terjadi? justru membuat Islam semakin jauh dari ajarannya.

Mengapa demikian? ya. Karena keduanya menempatkan hawa nafsu dan pemikiran mereka seolah lebih tinggi atau setara dibanding penjelasan yang Allah dan Rasulnya berikan melewati Al-Quran dan Al-Hadits. Akibatnya, perbuatan syirik merajalela disebabkan pemikiran mereka membolehkan memohon barokah dari sebuah telur yang dipecahkan dalam hajatan pernikahan, kembang tujuh rupa pemberi manfaat yang dikalungkan di leher pengantin pria, dan lain sebagainya. Atau justru akibatnya membuat orang mengecilkan makna barokah, penyebabnya hanyalah karena yang mereka ketahui barokah adalah satu porsi makanan yang lengkap dengan nasi dan lauk pauknya yang disebut‘berkatan’.

Untuk mengembalikan pembiasan makna tersebut, mari kita coba menilik arti kata ‘barokah’ dari asalnya.


MAKNA BAHASA

Dalam bahasa Arab, barokah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga mempunyai makna bertambah atau berkembangnya sesuatu an-namaa waz ziyaadah (النماء وازيادة)[1].

Maka untuk mendoakan seseorang agar mendapatkan barokah dikatakan at-tabriik (التبريك), sementara usaha mendapatkan barokah (ngalap barokah) dikatakan at-tabarruk  (التبرك)

Makna Istilah

Adapun makna barokah secara istilah (dalam Al Qur’an dan Al-Hadits) adalah langgengnya kebaikan, atau kadang pula barokah bermakna bertambahnya kebaikan dan suatu saat bisa bermakna kedua-duanya[2]. Sebagaimana do’a keberkahan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering kita baca saat tasyahud mengandung dua makna seperti yang disebut di atas.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maksud dari ucapan do’a “keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena Engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Do’a keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”[3].

Ini berarti Barokah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah, yang kebaikan itu dapat menjadi langgeng dan bahkan menambah kedekatan seorang yang diberi kepada Allah yang Maha Memberi.

Permasalahan seperti ini banyak kita dapati dalam masyarakat, dan mudah untuk dikenali. Misalkan dalam sebuah kasus harta kekayaan; suatu kekayaan yang diberikan kepada seseorang dan berbarokah akan menjadikan pemiliknya lebih dekat dengan Allah, ibadahnya semakin istiqomah dan semakin membaik.

Namun sebaliknya, jika kekayaan yang diberikan kepada seseorang adalah istidraj. Justru akan membuatnya semakin tamak dan semakin jauh dari Sang Pencipta. Allahu a’lam bish showab

terakhir, marilah kita berdoa kepada Allah agar kenikmatan yang telah diberikanNya berbarokah. dapat menetapkan langkah kita dalam ketaatan kepada Allah, atau bahkan dapat semakin mendekatkan kepadaNya. dan kita berlindung kepada Allah dari pemberian yang menjadi istidraj, dan semakin menjauhkan orang yang diberinya dari Allah Ta’ala…

 

—————————————————————————————–

foot notes:

[1] Mu’jam Maqoyisil Lughoh, Ibnu Faris, 1/227-228 dan 1/230. Dinukil dari At Tabaruk, Dr. Nashir bin ‘Abdurrahman  bin Muhammad Al Judai’, Maktabah Ar Rusyd Riyadh, 1411 H, hal. 25-26

[2] Dr. Nashir Al Judai’ dalam At Tabaruk, hal. 39

[3] Jalaul Afham fii Fadhlish Sholah ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul ‘Urubah Kuwait, cetakan kedua, 1407, hal. 308

 

tulisan ini adalah petikan dari kutaib (buku kecil) berjudul “barokallahu lakuma” yang dibagikan sebagai souvenir dalam acara-acara pernikahan. temukan kutaib/tulisan lainnya dengan terus mengikuti rafiq jauhary’s notes melalui facebook, atau dengan membuka http://rafiqjauhary.wordpress.com

doa istiftah dalam sholat malam

Oleh: Rafiq Jauhary

Kami terbitkan tulisan ini sebagai pelengkap dari buku ‘belajar tarowih bersama Nabi’ yang telah lama kami edarkan, sekaligus sebagai jawaban dari sebuah pertanyaan yang sampai pada redaksi. (silakan kunjungi http://rafiqjauhary.wordpress.com untuk mendapatkan buku diatas secara cuma-cuma).

 

Beberapa ulama berbeda pendapat pada bacaan doa istiftah dalam sholat. Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah mewajibkannya dalam rangkaian sholat, namun Justru Imam Malik dan para pengikutnya (malikiyah) memasukkannya dalam perkara makruh. (sunan wal mubtadi’at Bab 13: 1/54). Maka dalam hal ini perlu kami berikan penjelasan lebih lanjut.

  1. Hadits yang menjelaskan doa istiftah benar adanya. Yaitu Rasulullah dan para sahabat membaca doa istiftah setelah takbirotul ihrom, adapun bacaannya bermacam-macam. (silakan merujuk pada buku ‘Sifat Sholat Nabi’, oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani)
  2. Hukum membaca doa istiftah dalam sholat adalah sunnah (bukan wajib, juga bukan makruh), hal ini telah dijelaskan lebih rinci oleh beberapa ulama kontemporer. (keterangan lebih lanjut silakan merujuk pada majmu’ fatawa lisy syaikh ‘allamah Abdul Aziz bin Baaz 11/74)
  3. Namun pertanyaan yang kini dipersoalkan adalah, bagaimana membaca doa istiftah dalam sholat malam atau sholat dhuha yang jumlah rokaatnya banyak dan mengharuskan berhenti di setiap 2 rokaat?

 

Beberapa cara membaca doa istiftah dalam sholat tarowih

  1. Membaca doa istiftah di setiap permulaan 2 rokaat

Dalam Fatawa Al-Islam Su-Al Wa Jawab 1/5538 , Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajjid menanggapi Sebuah pertanyaan bernomor 66558.

 

هل نقرأ دعاء الاستفتاح في أول كل ركعتين من صلاة التراويح ؟.

نعم . يُشرع لك قراءة دعاء الاستفتاح في أول كل ركعتين من صلاة

التراويح ، وغيرها من صلاة النافلة ، لعموم الأدلة. 

 

Seseorang bertanya: “apakah kita membaca doa istiftah pada awal setiap 2 rokaat dari sholat tarowih ?”

Syaikh Al-Munajjid menjawab: “ya, disyariatkan membaca doa istiftah di setiap permulaan 2 rokaat daam sholat. Baik dalam sholat tarowih, maupun sholat sunnah lainnya. Hal ini berdasarkan pada keumuman dalil yang ada”

 

  1. Membaca doa istiftah disetiap permulaan 4 rokaat

Sementara Syaikh Muhammad Ibnu Sholih Al-Utsaimin dalam Jalsaat Romadhon 4/13 menanggapi sebuah pertanyaan

[ السؤال ] هل لصلاة التراويح دعاء استفتاح خاص كصلاة القيام، أم هو الدعاء العادي؟ 

Soal: “adakah dalam sholat tarowih sebuah doa istiftah khusus layaknya sholat tahajjud? Atau doa sebagaimana (doa istiftah) biasa?

 

الجواب: استفتاح صلاة التراويح ليس كاستفتاح صلاة التهجد الذي يكون بعد النوم، بل هو استفتاح كسائر الصلوات .كلما افتتح التسليمة استفتح، مثلاً أربع ركعات بتسليمتين، يستفتح بالأولى ويستفتح أيضاً في التسليمة الثانية

Jawaban: “doa istiftah dalam sholat tarowih tidak seperti dalam sholat tahajjud (karena dalam sebuah riwayat terdapat doa istiftah khusus untuk sholat tahajjud) yang dilakukan setelah bangun dari tidur, tetapi istiftah dalam tarowih seperti layaknya dalam sholat-sholat lainnya. Setiap permulaan rokaat, membaca doa istiftah. Contohnya, (dalam sebuah sholat tarowih) empat rokaat dengan dua kali salam (beristirahat disetiap empat rokaat). Maka dia membaca doa istiftah dalam empat rokaat pertama dan membaca lagi pada yang keduanya.

 

 

:: artikel ini dikeluarkan bekerjasama dengan ‘TAQWA TOURS’ untuk bimbingan haji dan umrah ::

yang perlu anda waspadai wahai penduduk desa (bagian 1)

Oleh: Rafiq Jauhary

 

Alhamdulillah, puji dan syukur terus kita haturkan pada Dzat yang telah memberi kita kesempatan beribadah di bulan yang penuh barokah ini. Dzat yang mengutus Muhammad putra Abdullah sebagai Rasulullah pemberi suri tauladan yang mulia, semoga kebaikan dan keselamatan diberikan pada beliau, keluarga dan para pengikutnya.

 

Romadhon benar memberikan manfaat besar bagi ummat Islam. Pada bulan yang sangat mulia ini keutamaan bukan hanya berhenti pada teori yang dipaparkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Al-Hadits dan kitab para ulama saja. Keutamaan bulan Romadhon pun dirasakan oleh para pedagang yang jauh sebelum tiba saatnya sudah gemar berdoa “semoga kelak pada bulan Romadhon daganganku laris, sehingga dapat menyisakan bagiku harta untuk shodaqoh”. Begitupun dengan para pegawai, tidak kalah dengan para pedagang mereka pun berdoa “semoga THR di bulan Romadhon nanti cukup untuk menafkahi keluarga dan berbagi dengan kerabat”.

 

Bagi anak-anak pun romadhon dijadikannya sebagai ajang berlomba dalam ibadah, mereka berkata “ayah, kalau nanti adik puasanya penuh, adik dikasih hadiah ya”. Dengan seperti ini lah ibadahnya dapat menjadi lebih giat dan diantara teman-temannya mereka saling bekerja sama sehingga dapat melewati bulan romadhon dengan suka dan tawa.

 

Dibalik itu semua, para orang tua dengan tibanya bulan romadhon sontak hatinya gembira penuh harap. Anak dan cucunya yang telah bertahun-tahun merantau ke kota akan pulang sebentar lagi saat idul fitri menjelang. Kebersamaan dan silaturohim itulah yang ditunggu, bukan sebatas oleh-oleh yang tentu tak seberapa.

 

Namun tanpa disadari, musibah mengancam penduduk desa disetiap romadhon usai. Kedatangan para perantau sedikit menjadikan masyarakat tidak nyaman.

 

Kebanyakan diantara perantau adalah orang yang keluar dari desa dengan tujuan tertentu. Diantara mereka ada yang berpindah dengan alasan dinas, mencari keberuntungan di kota, menuntut ilmu atau alasan yang lainnya, itu semua insya Allah baik. Namun suatu hal yang secara otomatis ada ketika kepergiannya adalah “hilangnya kepedulian bermasyarakat”.

 

Sebelumnya yang perlu kita sadari dalam kepergian para perantau mereka masih mengatakan bahwa mereka adalah penduduk suatu desa, namun ketika desanya dirundung suatu masalah pelik, perantau pun diam dan tidak ikut meredam permasalahan. Begitupun ketika gotong-royong digerakkan karena akses desa terputus disebabkan jembatan rubuh (misalkan), perantau pun masih terdiam dengan aktifitasnya di kota yang terbiasa cuek. Atau saat acara pengajian diadakan, ketika para penduduk yang sebelumnya membentuk panitia, sibuk mempersiapkan, menata masjid dan menghimpun dana. Lagi-lagi perantau tidak terlibat.

 

Namun berbeda begitu tiba saatnya mereka pulang kampung. Bak seorang artis ibu kota, rambut yang telah dicat pirang, kaca mata pun siap menemaninya berkeliling desa. Sebuah handphone berkamera dijadikannya sebagai alat untuk mengabadikan momen yang berharga baginya. Dia berjalan ke pematang sawah, saat melihat seorang nenek kesulitan membawa rumput yang diambilnya untuk makanan ternak, si perantau mendekatinya. Bukan membantu, namun ternyata dia mendekat hanya untuk mengambil gambar, sebuah foto yang kelak ketika balik ke kota akan ditunjukkan kepada teman-temannya sebagai ajang bercerita. cerita seorang nenek yang keberatan membawa rumput, dan ini akan menjadikan tawa yang meriah diantara mereka.

 

Namun, dimana musibah yang saya maksudkan dalam tulisan diatas?.

 

Untuk anda para penduduk desa. Silakan cermati desa-desa disekitar anda dari tahun ke tahun apa yang terjadi, terutama berkaitan dengan kepulangan para perantau. Anda akan dapat membuat hipotesis, yakni sebuah krisis akhlaq yang kian merosot.

 

Akhlaq sebuah desa yang semula terdidik dengan baik mulai tercemar dengan kedatangan para perantau dari kota. Bukan membawa ajaran baik dari pendidikan di kota, justu kedatangannya membawa kebudayaan yang menjadikan kasak-kusuk para tetangga.

 

1. Berlagak sombong

Mobil (rentalannya) yang diparkir di depan rumah ketika suatu saat dipegang seorang anak kecil membuatnya naik darah, telinga anak kecil itu dijewer sambil dikatai “ndeso banget tho, koyo ra tau weroh mobil wae” (kampungan banget sih, kaya nggak pernah lihat mobil aaja). Atau “hei, tangan yu nih kotor. Kalo yu pake buat pegang mobil ai, nanti lecet. Tauu??”

 

2. Memberikan contoh buruk dalam berbusana

Celana jeansnya disobek-sobek, mamakai kaos dengan gambar kotor atau bahkan dengan bangganya memakai kaca mata hitam saat berbicara dengan para sesepuh desa.

 

3. Mengenalkan dengan ajaran jahiliyah

Hampir pada setiap desa pak kyai memiliki peranan besar dalam mendidik akhlaq masyarakat. Mulai memakai sandal, dengan sabar seorang kyai mengajarkannya agar memakainya dari sebelah kanan, dan melepasnya dari sebelah kiri. Atau mengajarkan agar menggunakan waktu luang untuk membaca al-quran atau mendengarkan bacaan al-quran. Namun ajaran ini dirusak dengan ajaran yang berseberangan. Tidak hanya perantau dari kalangan para pekerja, bahkan pelajar dan mahasiswa pun dengan bangganya pulang memamerkan kemahirannya memetik gitar, atau koleksi lagu dalam laptop yang menumpuk.

 

Sebagai penutup, tulisan ini saya susun bukan bermaksud untuk memojokkan para perantau. Namun justru sebagai tantangan bagi mereka, jika memang masih peduli dengan desanya, maka berikanlah yang bermanfaat. Seandainya kalian memang kaya, infaqkan hartamu di jalan Allah. Atau seandainya keahlian yang anda miliki, maka gunakanlah keahlianmu untuk mendidik penduduk desamu.

 

anda yang pandai menjahit, ajarkan teman-teman desamu cara menjahit. anda yang ahli mengoperasikan mesin foto kopi, ajarkan teman-temanmu mengoperasikan mesin foto kopi. atau bahkan mengajaknya untuk membuka usaha bersama.

 

“barang siapa mengajarkan ajaran kebaikan, maka baginya pahala layaknya pahala orang (murid) yang mengerjakan kebaikan itu. Dan barang siapa mengajarkan kejelekan, maka baginya dosa layaknya dosa orang (murid) yang mengerjakan kejelekan itu.” (hadits shohih)

seharusnya, seperti inilah mental jamaah haji indonesia…

Cobalah kita mengaca pada sebuah kisah nyata, dituturkan seorang syaikh yang memberikan ceramah di masjid King Abdul Aziz Ma’abdah Makkah Al-Mukarromah musim hajji 1431 H lalu.

Beliau menceritakan. Seorang pemuda, dia adalah salah satu jamaah haji dari kota Riyadh, Arab Saudi. Dari cerita yang dituturkannya digambarkan bahwa semula pemuda tersebut adalah seorang yang nakal layaknya teman sebayanya yang telah akrab dengan barang seperti minuman keras, rokok dan sejenisnya. Namun dalam perjalanan haji kali ini dia ingin membuktikan keimanannya sebagai seorang hamba Allah. Tiada tujuan lain dalam ibadah yang akan dijalaninya kecuali mengharapkan ampunan dari Allah dan pahala yang banyak.

Tekadnya tak hanya sebatas dari lisan, namun sebelumnya dia telah menunjukkan keseriusannya untuk menjemput ampunan dariNya. Subhanallah, didatanginya beberapa ustadz dan dihabiskannya beberapa buku untuk mempersiapkan ibadah yang sebentar lagi akan dijalaninya.

Dan sampailah persiapannya pada hari yang sangat ia tunggu-tunggu, keberangkatan tiba saatnya. Saat sebuah pesawat komersial mengantarnya hingga bandara di kota jeddah. Bersama rombongan, dari rautnya pemuda tersebut tampak sumringah. Seolah tak sabar ingin mendapatkan janji Allah. Dan dia pun begitu optimis, karena yakin dengan apa yang telah dipersiapkannya.

Namun tiba-tiba langkahnya di bandara terhenti, raut mukanya berubah muram. Beberapa rombongan pun terheran dengan apa yang terjadi, seolah takut jika dia berubah pikiran untuk kembali ke kotanya dan membatalkan niatnya beribadah haji. Atas ijin Allah, yang terjadi justru sebaliknya. Pemuda tersebut mengeluarkan tangannya dari balik saku tas punggungnya sambil menggenggam sesuatu.

 

Dengan mematahkan barang yang ada dalam genggamannya dia berkata lantang. “Demi Allah, aku tidak ingin benda kecil ini akan menghalangi sampainya ampunan Allah kepadaku”. Dan dibuanglah benda tersebut ke tong sampah.

Saudara pembaca yang dirahmati oleh Allah, tahukah anda barang yang dimaksudkan pemuda tersebut?. Itulah sebatang rokok yang tanpa diketahuinya masih tersimpan dalam saku tas yang kerap dipakainya bermaksiat dahulu. Sebelum bertaubat, menentukan sikap untuk menjalankan ibadah haji.

Kejadian ini kemudian mengundang decak kagum diantara rombongan yang ada, gema takbir pun terdengar bersahutan. Sampai seorang syaikh yang ketika itu bertugas menjamu jamaah haji di bandara pun mendatanginya dan memberikan doa barokah kepada pemuda tersebut. Allah yubarik fiih.

Bercerminlah dari cerita pendek diatas. Seharusnya seperti inilah isi qolbu (hati) seorang muslim dalam taqorrub kepada Allah. Bukan seperti kebanyakan jamaah haji saat ini yang berangkat dengan lidah yang latah dengan ucapan ‘haji mabrur’ namun tindakannya sama sekali tidak mencerminkan seorang yang mendambakan kemabruran. Allahu a’lam bish showab.

 

:: cerita ini adalah sepenggal tulisan dari kutaib (buku kecil) karya rafiq jauhary yang dibagikan kepada para jamaah haji dan juga sebagai cindera mata / oleh-oleh dari perjalanan ibadah haji ::

judul buku: menggapai ampunan dalam ibadah haji

dimensi buku: seperempat halaman folio

jenis kertas: HVS 70 gr

ketebalan: 30 halaman

 

ingin mendapatkan buku ini? pemesanan dapat melalui https://www.facebook.com/rafiq.jauhary

dengan harga murah, hanya +- Rp. 1.500/ eksemplar (harga khusus untuk pemesanan lebih dari 100 eks)

 

rafiq jauhary: “ini adalah bagian dari program pengadaan buku murah dan memasyarakat. tersusunnya buku ini bertujuan untuk melebarkan sayap dakwah dikalangan masyarakat, dengan terbiasa membeli buku dan membagikannya kepada masyarakat maka budaya membagikan cindera mata dalam walimah pernikahan, pamitan haji dan semisalnya akan (sedikit-demi sedikit -ed) tergantikan”

 

program ini diprakarsai oleh: taqwatours

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.